Tidak di Indonesia, Tidak di Amerika, Jokowi Teralienasi Kekuasaannya ?

- Rabu, 11 Mei 2022 | 23:33 WIB
jokowi-Iriana
jokowi-Iriana

-
Jokowi dan rombongan tiba di Pangkalan Militer Andrews, Washington D.C., Amerika Serikat, Selasa (10/5)pada Selasa (10/5/) sekitar pukul 21.40 waktu setempat atau Rabu, 11 Mei 2022, pukul 08.40 WIB . / Foto : Dok. Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden Oleh : Ahmad Khozinudin   Ternyata, Jokowi tidak hanya kesepian di Indonesia. Saat berkunjung ke Amerika pun, Jokowi kesepian, kekuasaannya teralienasi, tak ada hiruk pikuk penyambutan dari pejabat AS. Sebagaimana dikabarkan, Jokowi dan rombongan tiba di Pangkalan Militer Andrews, Washington D.C., Amerika Serikat, Selasa (10/5), sekitar pukul 21.40 waktu setempat atau pukul 08.40 WIB, Rabu. Namun, tak ada penyambutan resmi dari pejabat Amerika. Jokowi hanya disambut oleh anak buahnya sendiri. Setelah pintu pesawat terbuka, Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Rosan Roeslani naik ke pesawat dan mempersilakan Presiden Jokowi dan Iriana untuk turun dari pesawat. Setibanya di hotel, hanya Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, yang telah tiba di AS lebih awal, yang menyambut Presiden Jokowi dan rombongan. Jokowi benar-benar kesepian, kekuasaannya tak dianggap. Di Amerika, Jokowi teralienasi. Kita jadi teringat, saat Jokowi enggan sholat idul Fitri di masjid Istiqlal dan memilih ke Yogyakarta. Kuat dugaan, di Istiqlal Jokowi akan teraliensi, tak dianggap oleh jamaah. Apalagi menjelang Pemilu 2024, semua sibuk membincangkan Capres walaupun masih ada presiden eksis. Jokowi seperti sudah tak dianggap, ada dan tiadanya tidak berdampak. Yang agak mengkhawatirkan, jika alienasi itu menjadi amuk massa, kemarahan rakyat seperti di Srilanka. Di Srilanka, rumah perdana menterinya dibakar meskipun sudah mundur. Nampaknya, perdana menteri Srilanka terlambat mundur. Rakyat sudah marah karena utang yang menumpuk ke China untuk proyek infrastruktur dan korupsi keluarga pejabat. Perdana Menteri Srilanka telah kehilangan harga diri dan harta, juga kehormatan. Dia, bahkan lebih hina dari rakyat biasa. Adapun utang di Indonesia memiliki karakteristik yang mirip. Utang besar ke China untuk memuaskan syahwat infrastruktur sekaligus masifnya korupsi pejabat dan keluarganya. Tentu saja, apa yang terjadi di Srilanka bukan mustahil akan terjadi di Indonesia. Hanya saja, jika rezim mengambil langkah tepat, tidak terlambat, mungkin dampak buruk dapat dihindari. Termasuk, dapat menghindari amukan rakyat yang membakar rumah pejabat seperti di Srilanka.   Penulis adalah Sastrawan Politik

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

Menyikapi Utang

Sabtu, 26 November 2022 | 18:48 WIB

Politik Tanpa Identitas Itu Uka-uka

Kamis, 17 November 2022 | 18:22 WIB

Keadaan Darurat Jika Pemilu 2024 Ditunda

Minggu, 18 September 2022 | 20:25 WIB

Pengasuhan Positif Sejak Dini, Dimulai Dari Mana Ya?

Senin, 29 Agustus 2022 | 13:09 WIB

Pilpres 2024, Siapa Capres Dukunganmu ?

Minggu, 26 Juni 2022 | 01:23 WIB

Perfeksionis : Antara Kelebihan Atau Kekurangan

Jumat, 24 Juni 2022 | 09:57 WIB

Komitmen Bernegara

Rabu, 20 April 2022 | 20:36 WIB

Memahami Arti Penalaran Abduktif

Senin, 18 April 2022 | 03:45 WIB

Pahlawan Nasional, Sekda NTB, Dan Kemarahan Sasak

Selasa, 8 Februari 2022 | 13:11 WIB
X