Ibu Hamil Tenang, Janin Senang : Kelola Stres Pada Ibu Hamil

- Minggu, 16 Januari 2022 | 20:54 WIB
psikolog-_
psikolog-_

-
Oleh : Aulia Untari Intan Wulandari. S.Psi. M.Psi., Psikolog.
Psikolog di UPT Puskesmas Pakem,Kab. Sleman. DI.Yogyakarta Kehamilan merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan janin intrauterin yang dimulai saat konsepsi hingga awal persalinan. Selama masa kehamilan banyak terjadi perubahan fisiologis pada tubuh ibu hamil sebagai bentuk adapatasi maternal yaitu perubahan fisik, fungsi organ, perubahan sistem hormonal, metabolisme dan kondisi psikologis terkait stres prenatal (Manuaba et al, 2010). Stres masa kehamilan bisa disebabkan stres fisik maupun stres psikososial. Stres merupakan kondisi yang tidak nyaman yang didefinisikan sebagai ketidakseimbangan ibu hamil untuk merasa mampuatau menolak terhadap berbagai perubahan dalam proses adaptasi kehamilannya (Woods et al, 2010; Nurdin, 2014). Stres masa kehamilan secara signifikan disebabkan oleh faktor kesulitan ekonomi, masalah rumah tangga, kekerasan fisik, masalah medis, aktifitasyang padat, pekerjaan dan riwayat kehamilan dengan komplikasi (Woods et al, 2010).Stres menurut Hans Selye (1976) merupakan respons tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap setiap tuntutan atau beban atasnya. Stres yang terjadi pada ibu hamil dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin. Janin dapat mengalami keterhambatan perkembangan atau gangguan emosi saat lahir nanti jika stres pada ibu tidak tertangani dengan baik.Stres ini di bagi menjadi stres internal dan eksternal. • Stres Internal : Faktor psikologis yang memengaruhi dalam kehamilandapat berasal dari dalam diri ibu hamil (internal). Faktor psikologis yang memengaruhi ibu hamil sendiri ialah latar belakang kepribadian ibu dan pengaruh perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan. Ibu hamilmemiliki kepribadian immatureatau kurang matang biasanya dijumpai pada calon ibu dengan usia ibu yang masih sangat muda, introvet atautidak mau berbagi dengan orang lain. • Stres Eksternal : berasal dari orang lain, sikap penerimaan atau penolakanorang lain terhadap individu. Penyebab lain dari stres dapat berasal darieksternal sepertiterjadinya keretakan dalam rumah tangga, pengangguran atau adanya kematian anggota keluarga.Stres yang terjadi pada ibu hamil juga berasal dari dukungankeluarga, ada tidaknya memiliki partner abuse, ataupun ada tidaknya mengalami kekerasan psikologis seperti tidak di perhatikan, suami selingkuh, dimarahi tanpa sebab yang pasti, istri menanggung beban keluarga, tingkah laku suami yang burukseperti mabuk,judi dan pemarah. Kekerasan terhadap wanita dapat terjadi pada semua kebudayaan, pendidikan, ras, agama dan latar belakang sosialekonomi. Kekerasan terhadap wanita merupakan suatu bentuk kejantananlaki-laki terhadap wanita. Seseorang wanita bagaikan sebuah benda, harta yang harus tunduk pada peraturan rumah tangga dan patut mendapat kekerasan. Bagi pasangan baru, kehamilan merupakan kondisi dari masa anakmenjadi orang tua sehingga kehamilan dianggap suatu krisis bagi kehidupan berkeluarga yang dapat diikuti oleh stres dan kecemasan. Dukungan keluarga memegang peranan yang besar dalam menentukan status kesehatan ibu,karena selama hamil ibu mengalami perubahan fisik atau psikologis sehingga membuat emosi ibu hamil labil. Stres prenatal sering terjadi hanya jarang dikenali dan dianggap tidak terlalu penting dalam masa kehamilan. Sebuah penelitian di Kanada menunjukan wanita hamil merasakan stres psikososial tingkat Rendah dan 6 % stres tingkat tinggi. Ibu hamil di Spanyol 30 % memiliki peluang lebih rendah untuk mengalami stres, sedangkan di Indonesia terdapat 64,4 % dari ibu hamil yang mengalami stres berat dan berpeluang menimbulkan persalinan kurang bulan (Woods et al, 2010; Silviera et al, 2012). Berikut ini adalah beberapa resiko stres yang dapat mempengaruhi kesehatan ibuhamil dan anak dalam kandungan, antara lain : • Meningkatkan Resiko Alergi Pada Janin. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa stres yang dialami ibu ketika hamil akan mampu meningkatkan resiko alergi pada bayi kelak. Hal ini terjadi, disebabkan saat stres, janin akan menyerap hormonkortisol yang diproduksi oleh ibu sewaktu mengalami stres. Bayi dengan tingkat kadar hormon kortisol yang tinggi akan memiliki resiko lebih besar mengidap alergi dibandingkan bayi dengan kadar hormon kortisol yang rendah. • Meningkatkan resiko abortus (keguguran). Hal ini berbeda jika dibandingkan dengan ibu dengan tingkat stresor yang lebih rendah dan memiliki sistem pengendalian stres yang lebih baik ketika menghadapi sumber stres pada ibu hamil. Kemudian membuat sistem kekebalan bayi berkurang. Sebagaimana diungkapkan oleh sebuah penelitian yang dilakukan oleh Jurnal Brain, Behavior anda Immunity, bahwa ibu hamil yang sering mengalami tegang, panik, dan cemas yang berlebihan akan dapat melemahkan sistem kekebalan bayi ketika bayi berusia 6 bulan. • Jika seorang ibu mengalami stres baik itu ringan ataupun berat,seorang ibu akan kehilangan nafsu makan, hal ini dapat menyebabkan seorang ibu kekurangan nutrisi dan timbulah berbagai macam gangguanyang mempengaruhi kesehatan seorang ibu, seperti diare, pusing, lemas,lesu dan berbagai gangguan metabolisme lainnya. Dampak tersebut membuktikan bahwa keadaan mental ibu dapat mempengaruhi kesehatan ibu selama kehamilan dan tumbuh kembang bayi pada periode kehidupan selanjutnya (Kinget al, 2010; Woods et al, 2010; Silviera et al, 2012). Cara mengurangi tingkat stres pada ibu hamil antara lain memadainya dukungan suami, menghindari pekerjaan yang beresiko, melakukan yoga, mengikuti senam hamil dan melakukan manajemen stres dengan beberapa pendekatan yaitu fisik, emosi, pikiran, spiritual, dan lingkungan. Jika memerlukan bantuan ahli di bidangnya maka dapat melakukan pertemuan secara intensif.

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

Birokrasi dan Penyampaian Informasi Publik

Kamis, 12 Januari 2023 | 14:47 WIB

Taubat, Hari yang Paling Indah

Jumat, 2 Desember 2022 | 05:37 WIB

Menyikapi Utang

Sabtu, 26 November 2022 | 18:48 WIB

Politik Tanpa Identitas Itu Uka-uka

Kamis, 17 November 2022 | 18:22 WIB

Keadaan Darurat Jika Pemilu 2024 Ditunda

Minggu, 18 September 2022 | 20:25 WIB

Pengasuhan Positif Sejak Dini, Dimulai Dari Mana Ya?

Senin, 29 Agustus 2022 | 13:09 WIB

Pilpres 2024, Siapa Capres Dukunganmu ?

Minggu, 26 Juni 2022 | 01:23 WIB

Perfeksionis : Antara Kelebihan Atau Kekurangan

Jumat, 24 Juni 2022 | 09:57 WIB

Komitmen Bernegara

Rabu, 20 April 2022 | 20:36 WIB

Memahami Arti Penalaran Abduktif

Senin, 18 April 2022 | 03:45 WIB

Pahlawan Nasional, Sekda NTB, Dan Kemarahan Sasak

Selasa, 8 Februari 2022 | 13:11 WIB
X