Demokrat Menentang Sukiman

- Minggu, 19 Desember 2021 | 22:43 WIB
Partai Demokrat
Partai Demokrat

-
Ketua Umum DPP Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). / Foto: Istimewa/www.ntbpos.com Oleh: Salman Faris Dapat dibaca, kehendak besar Sukiman mengambil alih tampuk pimpinan Demokrat NTB. Kalau dalam istilah drama, kehendak Sukiman ini merujuk alur sinetron: yang penting laku di pasar. Tak penting kualitas. Tak penting relasional sejarah dan emosi para aktor yang ada di dalamnya dengan penonton. Tak penting juga bangunan psikologis massa dan interaksi simbolik pendukung Demokrat seperti yang dirangkakan oleh Abraham Maslow dalam hierarki keperluan manusia, misalnya. Maka alurnya sangat linear. Datar. Menggelikan. Sangat menjemukan. Alur semacam inilah yang membuat siapa pun dapat membaca apa yang tersimpan di balik liku drama kehendak Sukiman dalam percaturan tapuk pimpinan Demokrat NTB belakangan ini. Kehendak Sukiman ini dapat dianalogikan dengan mentalitas para TKI Malaysia pada tahun 80an hingga 90an. Mentalitas “sedak pager”. Dengan membawa sedikit uang dari Malaysia, TKI ini dengan jumawa mendatangi rumah gadis yang sebenarnya sudah menjalin hubungan lama dan mendalam dengan seorang pria. Lalu dengan percaya diri, TKI memainkan emosional dan realitas orang tua gadis yang kurang mampu. TKI Malaysia ini tak peduli perasaan si gadis terhadap kekasih hati. Tak juga hirau dengan perasaan kekasih si gadis. Yang penting tujuan sampai. Sedikit uang dari Malaysia diperankan secara jitu. Maka jadilah sang TKI Malaysia mengawini gadis tersebut. Cinta si gadis dengan kekasihnya, sama sekali tidak ada hubungan dengan kepentingan dan jurus sesaat TKI Malaysia. Sang TKI Malaysia tak peduli terhadap semua itu. Tujuannya satu, “sedak pager”. Mentalitas “sedak pager” tersebut sebenarnya tidak jarang berlaku dalam dunia politik dan partai politik. Namun jika ia dimainkan secara kasar, apatah lagi sambil memainkan struktur dan metafisik, hal ini mencerminkan betapa kehendak berkuasa itu lebih mencolok dibandingkan kehendak membesarkan partai dan ia menjadi titik hitam bagi altar integritas aktivis politik dan para pemimpin. Partai tak lebih dari aset yang dapat disandak kepada siapa saja yang bermental “sedak pager”. Dengan begitu, kehendak Sukiman ini juga dapat dilukiskan setara dengan tradisi “tanggep bangket”. Ada tiga sistem di situ: Bangket (Partai), Penanggep (orang yang berduit dan berkuasa), dan penyandak (orang dalam partai yang bermental culas). Dan mereka, para aktivis partai yang terjerembab ke dalam permainan semacam ini ialah tak lebih dari seorang “penyandak bangket”. Sadis bukan? Seorang “penanggep bangket” tidak perlu merasa terikat secara historis dan filosofis dengan bangket: sawah atau tanah yang disandak tersebut. Yang utama baginya ialah mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari transaksi yang ia lakukan. Dan begitu uang “tanggepan bangket” sudah kembali, ia pun masih dapat menari sebab keuntungan sudah didapat ditambah pula dengan modal sebagai “penanggep bangket” kembali secara utuh. Demokrat NTB mau sandak bangket kepada penanggep yang sudah jelas memang tujuannya ialah menjadikan bangket tersebut sebagai arena perolehan keuntungan kekuasaan? Kita lihat saja sisirian kerugian berikut ini. Pertama sekali, Sukiman mempunyai peluang sangat kecil memenangi perebutan kursi kekuasaan di NTB. Bahkan jika mengacu kepada arus pertarungan figur terkini, jangankan memenangi perebutan kekuasaan, bahkan untuk menjadi calon yang akan bertarung pun, Sukiman masih belum jelas mempunyai ruang atau pun tidak. Modal sebagai Bupati Lombok Timur bukan modal besar jika mengukurnya dari saat perhelatan Pilkada NTB mendatang maupun dari situasi sebelumnya. Ingatan masyarakat tentang Sukiman masih sangat kecil jika dibandingkan tokoh-tokoh yang mengambil peranan bertarung di Pilkada NTB tahun 2018. jika dibandingkan dengan Ali BD yang sama-sama dari Lombok Timur pun, Sukiman masih redup. Ingatan masyarakat tentang Ali BD masih sangat kuat. Belum lagi jika dibandingkan dengan calon lain, seperti Ahyar Abduh dan Suhaili. Sukiman masih amat kabur ditutupi kemerlap kedua tokoh ini. Ini adalah situasi yang sangat tidak berpihak kepada Sukiman yang sedang memegang kekuasaan dibandingkan ketiga tokoh tersebut. Ali BD, Ahyar Abduh, dan Suhaili. Mereka yang sudah menjadi mantan masih lebih kemerlap dibandingkan Sukiman, merupakan tanda penting untuk menerawang, betapa hanya untuk menjadi calon yang bertarung pun, Sukiman masih belum memiliki sinyal yang menguntungkan. Jika pun boleh berandai, Sukiman dapat bersanding sebagai calon, meskipun bukan dari Demokrat, misalnya. Apakah peluang Sukiman terbuka untuk memenangkan kontestasi? Logikanya sederhana saja, apabila untuk menjadi calon saja Sukiman tertatih-tatih, apatah lagi untuk memenangkan pertarungan. Hal ini semakin tidak mudah bagi Sukiman jika disandingkan dengan kedua petahana yakni Doktor Zul dan Doktor Rohmi. Andai pun kedua petahana ini, karena satu kondisi yang tak dapat dielakkan, akhirnya berpisah dan berlawanan satu sama lain, kemudian ada Sukiman di tengah pertarungan mereka berdua sebagai petahana, Sukiman akan menduduki posisi paling buncit. Sebab sejauh ini, pertarungan Pilkada NTB mendatang ialah milik kedua petahana, baik tetap berpasangan maupun sebaliknya. Perhitungan Sukiman kemungkinan ialah meraup surara Lombok Timur. Baiklah, kita coba teropong pertarungan di lokus Lombok Timur saja. Apakah Sukiman akan moncer? Masih sangat tipis garis ruang perenangan Sukiman. Seperti yang dikatakan sebelumnya, bahkan dengan Ali BD pun, Sukiman masih kalah redup di ingatan masyarakat. Apatah lagi jika dipertandingkan dengan Doktor Rohmi yang, memamg menjadikan Lombok Timur sebagai lumbung suara. Di Lombok Timur, membandingkan peluang Doktor Rohmi dengan Sukiman, sungguh tidak setara. Baik dari sudut pandang sosio kultural maupun dari terah keorganisasian, Lombok Timur masih di tangan Doktor Rohmi. Lantas, Sukiman mengharap palung suara dari mana? Lombok Tengah, sungguh amat kecil kemungkinan Sukiman dapat menggeser basis Suhaili. Termasuk di Mataram yang, memang dulang langkep milik Ahyar Abduh. Sukiman bersiul ke Lombok Barat, publik tahu persis, Fauzan Khalid amat kecil meniupkan selendang suara kepada Sukiman, apatah lagi di Lombok Utara. Karena itu, jika teori yang dibangun oleh Sukiman yakni merebut tapuk pimpinan Demokrat NTB untuk memuluskan langkah bertarung di Pilkada NTB mendatang, hingga saat ini, jika merujuk kepada realitas ingatan masyarakat seperti yang diuraikan di atas, maka sungguh, itulah teori paling rapuh yang lahir dari seorang politisi yang sudah berumur semacam Sukiman. Lacur lagi, apabila teori dan strategi kehendak Sukiman ini diterima oleh para “penyandak partai” di tubuh Demokrat sendiri, maka tenggelamlah tidak hanya kapal van der Wijck, namun pinisi demokrat NTB akan pupus di palungan gelombang pertarungan politik. Anehnya, situasi sinyal lemah semacam itulah yang dijadikan basis analisis bagi Sukiman untuk menjadi “penanggep” Demokrat NTB. Dengan asumsi, setelah Sukiman berhasil menanggep Demokrat NTB, sinyal redup tersebut dapat sedikit terbantu. Bagi Sukiman, paling tidak dengan seperti itu, ia merasa sudah mempunyai selembar tiket penawar. Namun Sukiman lupa, realitas ingatan masyarakat tentang dirinya yang lemah pada saat masih berkuasa, tidak dapat didongkrak secepat kilat. Ia perlukan perjuangan dan biaya mahal dalam semangat kesejarahan dan filosofis yang sama di rumah bernama Demokrat NTB. Akankan Sukiman mendapatkan hal ini? Dukungan penuh dari loyalis dan angkatan muda Demokrat yang sudah diikat dalam kesatuan historis dan filosofis Demokrat? Jawabannya tidak. Bagaimana pun juga, noktah Sukiman sebagai penanggep Demokrat tidak akan terkikis dengan mudah di tengah aktivis loyal Demokrat. Hal ini terutama sekali karena pada fase saat ini Demokrat NTB sedang membangun semangat yang sama. Mengutamakan kesatuan sejarah dan filosofis dalam derap perjuangan. Termasuk dalam mengeliminir orang dalam Demokrat yang masih sangat kental bermental “penanggep” dan “sedak pager” ala TKI Malaysia. Karena itu, satu atau dua periode mendatang, harus disadari dengan jujur oleh Demokrat NTB, bahwa Demokrat belum kuat peluang untuk kembali memimpin di NTB. Maka untuk satu dua periode tersebut, langkah paling strategis yang sebaiknya dilakukan Demokrat NTB ialah berada di garis kuasa, meskipun bukan sebagai pusat kuasa. Dalam masa yang sama, Demokrat NTB mempersiapkan tunas pemimpin hebat sambil menunggu ruang yang tepat untuk berada di pusat kuasa NTB. Tentu saja, strategi seperti tidak dapat dilakukan jika mental “sedak pager” ala TKI dan “penanggep bangket” diberikan secara terbuka oleh Demokrat NTB. Malah hal ini akan semakin menjauhkan Demokrat dari pusat kuasa NTB, terutama karena “menyandak” Demokrat kepada figur yang amat tipis peluang untuk menang. Selain itu, strategi berikutnya ialah Demokrat menyiram benih muda. Lalu membiarkan kuncup Demokrat mekar sekaligus menyelami medan pertarungan untuk mempensiunkan mereka yang gemar “sedak pager” dan “sandak partai”. Bukankah mental dasar Demokrat NTB ialah bertarung untuk menang? Jika iya, berikan kepercayaan kepada mental pemenang bukan kepada “penanggep” kalah.  

Penulis adalah Akademisi, Pekerja Seni Budaya, Pemerhati Sosial Politik dan Media

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

Keadaan Darurat Jika Pemilu 2024 Ditunda

Minggu, 18 September 2022 | 20:25 WIB

Pengasuhan Positif Sejak Dini, Dimulai Dari Mana Ya?

Senin, 29 Agustus 2022 | 13:09 WIB

Pilpres 2024, Siapa Capres Dukunganmu ?

Minggu, 26 Juni 2022 | 01:23 WIB

Perfeksionis : Antara Kelebihan Atau Kekurangan

Jumat, 24 Juni 2022 | 09:57 WIB

Komitmen Bernegara

Rabu, 20 April 2022 | 20:36 WIB

Memahami Arti Penalaran Abduktif

Senin, 18 April 2022 | 03:45 WIB

Pahlawan Nasional, Sekda NTB, Dan Kemarahan Sasak

Selasa, 8 Februari 2022 | 13:11 WIB

Kebon Kupi Sembalun

Jumat, 31 Desember 2021 | 18:57 WIB

Demokrat Menentang Sukiman

Minggu, 19 Desember 2021 | 22:43 WIB

KPPN Selong, Membangun Integritas Melalui WBBM

Rabu, 15 Desember 2021 | 10:18 WIB
X