• Rabu, 10 Agustus 2022

Satu Tahun Bersinergi, Pemda Lotim Sukses Membentuk Herd Immunity

- Sabtu, 4 Desember 2021 | 20:22 WIB
pejuang
pejuang

-
Bupati Lombok Timur (tengah), Didampingi Wakil Bupati (kanan) dan Dandim 1615/Lotim (kiri) Beserta Kapolres Lotim (paling kanan) dan Sekda Lotim (paling kiri)./ Foto : Dok. ntbpos/www.ntbpos.com

LOMBOK TIMUR, NTBPOS.com - Wabah virus Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia WHO sejak 11 Maret 2020 lalu. Berselang beberapa hari kemudian, tepatnya pada tanggal 24 Maret 2020, situasi di Lombok Timur mulai mencekam karena adanya kasus terkonfirmasi positif Covid-19.

Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi NTB mengeluarkan rilis resmi, pasien nomor 01 merupakan cluster Jakarta yang merupakan warga Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur.

Pasca mencuatnya kasus itu, upaya untuk mencegah penularan dilakukan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, diantaranya dengan melakukan tracking kontak dan penyemprotan cairan disinfektan.

Adanya korban meninggal dunia akibat terpapar virus corona membuat situasi di Lombok Timur kian genting, selain ancaman terpapar virus, keselamatan petugas juga terancam oleh beberapa keluarga pasien yang menolak keluarganya dimakamkan sesuai dengan protokol covid.

-
Pemakaman Salah Satu Warga Desa Jerowaru, Yang Menjadi Korban Covid-19 pada Februari 2021 Lalu./ Foto : Suandi Yusuf/www.ntbpos.com

Puluhan keluarga pasien juga harus menjalani perawatan dan isolasi mandiri. Pekerjaan itu bukan hal yang mudah, butuh kekuatan ekstra dan nyali yang kuat untuk menghadapi kondisi selama pandemi, sebab banyak hal terjadi diluar rencana dan perkiraan.

Bencana non alam tersebut juga memaksa seluruh aktivitas masyarakat mulai dibatasi, berbagai isu tentang keganasan virus mematikan tersebut beredar dengan cepat melalui berbagai media. Pemerintah mulai disibukkan dengan pencegahan dan penanganan virus menular yang mengancam nyawa manusia itu.

Tidak hanya itu, pemerintah justru dihadapkan dengan permasalahan yang lebih berat, yakni retaknya kerukunan warga. Bagaimana tidak, penderita dan keluarga dekatnya mulai dikucilkan. Jaga jarak untuk menghindari penyebaran virus menjadi alasan pembenaran.

Dahsyatnya serangan wabah yang diketahui pertama kali muncul di Wuhan, China pada tahun 2019 lalu, membuat semua warga tercengang karena dipertontonkan dengan kondisi ratusan korban yang tiba-tiba terkapar di jalan-jalan, dibiarkan begitu saja sampai mereka menemukan ajalnya.

Rasa empati, jiwa manusiawi hampir saja hilang ditelan bumi karena setiap ada warga yang tiba-tiba terkapar di jalan, tidak ada yang peduli. Raga manusia yang mati saat itu akan pergi dengan sendiri tanpa iringan keluarga, sahabat dan Kolega.

Halaman:

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

X