TGB Kritisi Pernyataan Anies Soal Data Pembangunan Jalan Era SBY dan Jokowi

- Minggu, 21 Mei 2023 | 23:26 WIB
TGB. H. Zainul Majdi. /www.ntbpos.com/ (Foto : Tangkapan Layar)
TGB. H. Zainul Majdi. /www.ntbpos.com/ (Foto : Tangkapan Layar)

MATARAM, NTBPOS.com - Pernyataan bakal calon presiden andalan NasDem, PKS dan Demokrat, Anies Rasyid Baswedan pada saat menyampaikan pidato politik dalam acara Milad ke-21 tahun PKS di Jakarta, pada Sabtu 20 Mei lalu, menuai komentar dan kritik dari mantan Gubernur NTB, TGB HM Zainul Majdi.

Dalam video yang berdurasi kurang lebih 30 menit tersebut, TGB memberikan atensi khusus pada poin penyampaian Anies yang membandingkan kinerja kuantitas pembangunan jalan tak berbayar alias non-tol, baik itu jalan nasional, provinsi, maupun kabupaten/kota pada masa SBY dan Jokowi. Menurutnya, data yang disampaikan tersebut tidak utuh alias cacat.

Sebagimana yang disebutkan dalam narasi mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut, jalan tak berbayar yang dibangun pada masa kepemimpinan Jokowi adalah sepanjang 19 ribu kilometer, bertolak jauh dengan hasil kerja Presiden SBY yang berhasil menciptakan 144 ribu kilometer jalan gratis.

Baca Juga: Milenial Wilayah Selatan Lotim Ingin Sosok Pemimpin Baru, Ogah Pemain Lama Merusak Fisikologis

Merespon pernyataan tersebut, dalam video reaksinya, TGB menyelipkan satu catatan, bahwa Anies Baswedan tidak menyebut atau mungkin melupakan tentang pembangunan jalan desa.

“Mas Anies Rasyid Baswedan tidak menyebut, melupakan. Saya tidak tahu, ini sengaja atau tidak sengaja. Beliau tidak memaparkan tentang jalan desa,” imbuhnya.

Menurut TGB, Presiden Jokowi pada masa 9 tahun kepemimpinannya dari 2014 sampai dengan akhir tahun 2022 sudah membentangkan total 316 ribu kilometer jalan desa di seluruh penjuru Indonesia. Yang dimana, jalan desa ini akan memperlancar arus pengiriman logistik dan menekan biaya distribusi.

Baca Juga: Ditetapkannya Menkominfo Sebagai Tersangka Kasus BTS 4G, Ujian Bagi NasDem

TGB lanjut mengelaborasi pernyataannya, bahwa jalan desa menjadi satu instrumen penting untuk dapat mengurangi kesenjangan sosial dan mewujudkan sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Karena, sejatinya kemakmuran dan kesejahteraan itu dimulai dari desa.

“Meningkatkan kemakmuran dari tingkat desa berarti mempercepat, meningkatkan, dan memperbesar porsi ekonomi yang diperoleh oleh masyarakat desa. Salah satu strateginya adalah dengan mengurangi biaya logistik dan memperlancar arus barang dan jasa,” sambung tokoh NWDI itu.

TGB juga menegaskan, semestinya sebagai seorang calon presiden, data yang disampaikan haruslah utuh.***

Editor: Suandi Yusuf

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X