Begini Penjelasan Budaya Peresean, Menurut Tokoh Sambelia ini Akan Punah

- Rabu, 24 Agustus 2022 | 07:05 WIB
Kepala Desa Sambelia, Kecamatan Sambelia, Soebandi, saat menjadi pengembar di acara Peresean.  (Photo: Istimewa. )
Kepala Desa Sambelia, Kecamatan Sambelia, Soebandi, saat menjadi pengembar di acara Peresean. (Photo: Istimewa. )

NTBPOS.com - Soebandi, salah satu tokoh di Kecamatan Sambelia, dan saat ini sedang menjabat sebagai kepala Desa Sambelia, meyayangkan budaya sasak hampir punah. 

Dia menjelaskan, Budaya daerah merupakan cerminan dari keadaan dan sifat disetiap daerah. Khususnya di daerah Pulau Lombok, NTB. Dimana, berbagai macam budaya dan adat istiadat masih dilestarikan bahkan sudah punah.

"Mengabaikan budaya seperti salah satunya, Peresean bukan termasuk cara melestarikannya," cetus Soebandi,usai menjadi pengembar (wasit) di acara peresian di Desa Sambelia, Selasa, 23 Agustus 2022.

Baca Juga: Turnamen Gangsing di Denggen Masuk Sebagai Rangkaian Kegiatan Pesona Gumi Selaparang

Menurut dia, melestarikan budaya merupakan upaya perlindungan dari kemusnahan atau kerusakan warisan leluhur yang turun menurun hingga saat ini.

"Pemerintan Kabupaten maupun tingkat bawah, harus memiliki kebijakan pelestarian dan pengembangan budayaan," harap Soebandi. 

Budaya yang diwarisi nenek moyang kita, sabungnya, memiliki nilai-nilai moral. Seperti Peresean, meskipun telah melalui proses perubahan bentuk budaya.

Baca Juga: Kisah Selaq Marong, Si Mata Merah yang Mematikan di Arena Peresean

Menurut Soebandi, Peresean bukan sekedar saling pukul saja, namun didalamnya mengandung makna. Leluhur terdahulu menggelar Peresean untuk melatih ketangkasan suku sasak untuk mengusir para penjajah.

"Latar belakang Peresean adalah pelampiasan emosional para raja pada masa lampau ketika menang dalam perang tanding melawan musuh- musuhnya," Imbuhnya. **

Editor: Najamudin Annaji

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Embung Bidadari Menurut Tokoh dan Kata Pengunjung

Rabu, 3 Agustus 2022 | 12:48 WIB
X