Harga Komoditas Meningkat Drastis, Pemerintah Diminta Waspada

- Senin, 8 Agustus 2022 | 08:42 WIB
Anggota Komisi XI DPR RI Charles Meikyansyah.  (dpr.go.id)
Anggota Komisi XI DPR RI Charles Meikyansyah. (dpr.go.id)

NTBPOS.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,44 persen pada Kuartal II Tahun 2022. 

Dengan demikian kinerja ekonomi triwulan II-2022 sudah lebih tinggi daripada sebelum pandemi. Hal ini menandakan pemulihan ekonomi yang berlangsung sejak triwulan II-2021 terus berlanjut dan semakin menguat.

Namun, pemerintah harus mewaspadai adanya situasi pertumbuhan semu sebagai dampak dari adanya ledakan harga komoditas yang sangat tinggi (commodity boom). Hal iitu di ungkap Charles Melkiansyah, Anggota Komisi XI DPR RI, dilansir dari dpr.go.id. Senin, 8 Agustus 2022.

Baca Juga: Dampak positif Covid-19, Munculkan Tren Baru Wisata Kesehatan

“Kita tidak boleh terlena karena bisa jadi ini merupakan pertumbuhan yang semu akibat commodity boom di mana harga komoditas melambung tinggi, sedangkan output yang kita hasilkan sebenarnya relatif tidak berubah,” kata Charles

Meskipun demikian, Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI tersebut menilai capaian pertumbuhan tersebut sebenarnya menunjukkan bahwa perekonomian domestik memiliki ketahanan yang cukup kuat terhadap shock dari luar.

Selain itu, mobilitas yang relatif tinggi karena karena kebijakan pengendalian Covid-19 yang diterapkan tidak seketat negara lain, juga bisa menjadi faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Pekan Menyusui Seduni, Dirjen Kesmas Kunjungi Sragen Sebagai Lokus Stunting

Karena itu, Charles mengatakan, capaian Indonesia pada titik pertumbuhan ekonomi 5,44 persen pada kuartal II merupakan bentuk keberhasilan Indonesia dalam mengelola perekonomian, yaitu menyeimbangkan antara demand (permintaan) dan supply (penawaran). Hal ini terjadi di samping adanya permasalahan geopolitik maupun pandemi Covid- 19.

 “Tingkat pertumbuhan ekonomi yang menunjukkan perbaikan setiap triwulannya menjadi bukti optimisme untuk terhindar dari resesi. Namun, perlu diingat bahwa pemerintah tetap harus hati-hati dalam membuat suatu kebijakan mengingat adanya tekanan inflasi global dan risiko resesi global yang disebabkan oleh pengetatan moneter yang agresif di Amerika Serikat dan perlambatan pertumbuhan ekonomi di Cina,” ujar Charles.

Halaman:

Editor: Najamudin Annaji

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Gempa Masal Tenaga Honorer Pada November 2023

Kamis, 29 September 2022 | 15:16 WIB

Mendagri Serahkan KTP-el dan KK kepada WNI di Jepang

Selasa, 27 September 2022 | 21:41 WIB

Indonesia Usulkan Ikut Uji Klinis Vaksin TB Kepada BMGF

Senin, 26 September 2022 | 07:56 WIB

Ketua Dewan Pers Azyumardi Azra Wafat di Malaysia

Minggu, 18 September 2022 | 16:05 WIB

Mahfud Desak RUU Perampasan Aset Segera Disahkan

Sabtu, 17 September 2022 | 13:55 WIB
X